Jumat, 03 April 2009


Diatas tapal dengan guruh sarat semangat
Dihadiahi rasa timbul lalu rasa
Tidak hanya menjerat

Aku kabut kau tiupkan

Terbang aku
Lalu berpindah
Satu pijakan arah

Tidak lagi dengan layu

Tersimpan sebuah nama
Dengan arti suci
Dalam gelas jernih

Aroma cinta, kini sampai muncrat

Di balik tembok aku tumbuh
Bangkit, sekelilingnya lumpuh
Berteman sekantong rapuh
Tetap, berjuang sungguh

Di depanku tikus gendut
Sampai habiskan sampah
Bau dia kentut
Setelah manis serapah

Berdiri aku terduduk lagi
Siapa aku? Aku sadari
Ku raih kaki kembali
Sedang kepala berat terangkati

Aku diam dengan dudukku
Dengan pikir lari-lari
Sembari semangati jari
Untuk berteriak inilah aku

Lihat apa kau?
Aku?
Dalam bahasaku?
Ku yakin tak ada maksudku
Kau diam tiada sesuatu
Karena ini nyeri adanya

Aku terlesu saat
Langkah kan tinggalkan mu
Sebaris air mata berdampingan
Semangat mengkelakar kian dan semakin
Hidup

Caramu mencintaiku
Mengharap aku cintai kamu
Sepenuh tulus

Ini nyanyian lantunan hati
Bergema saat keringat itu
Juga mata beratku
Temaniku dengan kerinduan
Hasrat raga
Hadir kamu
Dalam keheningan cinta

Cinta?
Seperti bidadari dari
Kahyangan; harap dari manusia
Berwarna-warni
Buah cahaya dari panganmu
Semerah darah; air mata terakhir
Sekuning pengecut dikalah Cleopatra
Katanya, juga
Sehijau daun sipembawa tawa
Dan sebiru langit peneduh kita
Padahal karena aneka warnanya
Tidak ada paham kita
Untuknya


Lalu, dengan lantunan hati ini
Aku gegaskan jiwaku
Dan ragakpun
Ke satu titik cahaya
Pastikan pijari masaku
Masa sepanjang umur
Ada, juga tiadamu
Allah merestuimu penyelamat
untukku

Pada Istirahatnya, Kita Pasti Merdeka

MENDENGAR, UNTUK MEMASTIKAN LANGKAH
JIKA KITA SADAR DARI SATU TITIK
JANGAN PERNAH BERGESER
SEBELUM SEMUANYA TERMAKNAI