Selama ini aku bermimpi:
Ada satu rumah mewah yang berdiri membentang
Dalam rumah ada rumah
Tapi ingat..
Kemewahan sebagai motivasi alam
Merahmat untuk alam
Dibangun dari cita-cita tinggi
Mimpi yang dikira tak pernah terbeli
Tiga utusannya dalam lamunan,
Setelah nasib ada pertemukan lalu telan mereka
Bergumam, bercerita lalu berdesah juga menjerit
Kadang berucap
Sebuah ungkapan agung
Untuk andil juang
Demi kehidupan
Yang harus dengan kebebasan
Kemerdekaan
Karna itu mampu membawa sejuk
Berkeringat untuk kehidupan
Mereka meyakini
Di bumi, kita semua saudara
Dimulai dari rumah mewah
Cita itu bertumbuh semi
Merah semangat terlihati
Tiga orang yang dulu:
Manis, imut seperti lugu
Berjalan dari merangkak
Untuk yang tercita-cita tegak
Mencoba menyimpan ada tabungan
Di saku masa depan
Dengan keringat
Ia mencoba rintis
Pernah darah kagetkan mereka
Jatuh, dan apakah terbangun lagi?
Waktu, juga alam
Sebagai tangis di malam pekat
Hampiri dua daun mereka
Memaksa karena jeritannya terus selalu menganga
Bangunkah mereka?
Tak sadari alam mereka?
Di jauh mereka:
Seorang ibu
Dengan bayang anaknya ada di kepala
Duduk terlesu di pintu depannya
Terkuping lagu sunyi hangati hujan sore itu
“buah hatiku..
Kerinduanku, doa untuk mu
Dengar pesanku….
Kehidupanmu, adalah aku ada”
Raihlah….
Raihlah mimpimu, anakku
Ucapnya pada batu yang basah
Suatu keping lain
Sejiwa mereka, tapi lainan
Belum tampak. Sudah tampak
Saatnya kelak
Mereka ayam untuk mereka
Tiga manusia berkepala Satu
Bangunkan mereka, atau pembunuh tidur
Yang pasti, pasti karena sunyi sepi
Ada jiwa yang membutuhkan
Ada teduh saat melihat yang basah
Apakah mereka saling mencinta?
Siapa yang saling mencinta?
Tangis teman, kawan, sahabat, saudara
Keluarga mereka
Tontonkan tontonan kesangsian
Selama ini aku bermimpi….
Selanjutnya mimpi esok hari..
JAKARTA, 2008