Kamis, 20 Agustus 2009

ayang aa

Tak bisa terhindari
Dada ini akan pergi
Kau, aku kan sepi lagi
Tak lagi ceria seperti
Cinta bersamping nikmatnya hari

Aku pergi
Disebab kita berharap mimpi

Jalan ini harus berapi
Meski tanganmu tak terjabati
Karena kamu pasti
Selalu ada di pusat hati

Lisda Ayu Lestari

Senyum malam ini adalah bayang
Gulumnya menyulam hati berawan sayang

Antara gelap sedikit terang
Jelas hanya terapung aku membayang

Kau sengatan petir
Membekaskan aku tergoles lemah
Tertidur
Didua sadar

Wajah menyelinap masuk
Keberadaan idea
Aku tergoles membayang

Malam
Yang malam
Aku hanya membayang

JAKARTA, 2008

rangkas-Jakarta

Ketundukan

Dua tahun lalu
Aku menuai cinta
Banyak makna
Hingga kaya bercerita
Pada sesama beradu nasib
Dalam singgasana hati

Sesampai pada bangga
Dengan yakin teramat dalam
Menyisakan malu
Nan menyesakkan
Hingga terasa jiwa telahlah mati

Kini sangat bisu
Dengan haru
Pada seonggok kenyataan

Aku terluka
Dengan jari-jari motor hampiri dadaku
Saat dalam perjalanan
Setiap menjemput cinta
Ialah ke rangkas
Walau mata terpejam
Seakan ajal kan tiba
Hampiri tubuh mungil ini

Namun pada adanya
Aku hanya tertunduk
Pada buku
Telah lama memaki
Padahal Fitria telah usang mencibiri
Diri yang kurus telah lama berpenyakit

Kini aku bertanya
Siapa lagi kian memaki

tak tahu siapa namanya

Kamu itik menari
Berlantai madu
Memanis kamu
Atau
Pipit bernyanyi
Fajar ceria
Menghangat kamu

23-04-08

untuk daimal aziz

apa pantas ku sebut mu hantu?kau hadir dalam hari,apa untuk pergi..karena,,,sampai kini kau masih dalam matimu temukan aku..pesanku, rasulmu memanggilmuuntuk selalu terikat dalam persaudaraanmu..seumpama aku mati,doakan saja aku bertemu Muhammad (Nabimu),Rumi,al-kindi,Imam Ali,kekasihku Husain Bin Ali,bidadariku Aisyah,dan aku berharap bisa mencium al-Hallaj,St Jenar..dan tentunya orang yang pernah mengnalku..oia, doain w di surga atau di neraka biar bisa ketemu Maria Ozawa aka Miyabi...saudara,sebelum gw mati gw harus ketemu lw

kingdom of best emperor

Selama ini aku bermimpi:
Ada satu rumah mewah yang berdiri membentang
Dalam rumah ada rumah
Tapi ingat..
Kemewahan sebagai motivasi alam
Merahmat untuk alam

Dibangun dari cita-cita tinggi
Mimpi yang dikira tak pernah terbeli

Tiga utusannya dalam lamunan,
Setelah nasib ada pertemukan lalu telan mereka

Bergumam, bercerita lalu berdesah juga menjerit
Kadang berucap
Sebuah ungkapan agung
Untuk andil juang
Demi kehidupan
Yang harus dengan kebebasan
Kemerdekaan
Karna itu mampu membawa sejuk

Berkeringat untuk kehidupan
Mereka meyakini
Di bumi, kita semua saudara

Dimulai dari rumah mewah
Cita itu bertumbuh semi
Merah semangat terlihati

Tiga orang yang dulu:
Manis, imut seperti lugu
Berjalan dari merangkak
Untuk yang tercita-cita tegak
Mencoba menyimpan ada tabungan
Di saku masa depan

Dengan keringat
Ia mencoba rintis
Pernah darah kagetkan mereka
Jatuh, dan apakah terbangun lagi?

Waktu, juga alam
Sebagai tangis di malam pekat
Hampiri dua daun mereka
Memaksa karena jeritannya terus selalu menganga
Bangunkah mereka?

Tak sadari alam mereka?
Di jauh mereka:

Seorang ibu
Dengan bayang anaknya ada di kepala
Duduk terlesu di pintu depannya

Terkuping lagu sunyi hangati hujan sore itu

“buah hatiku..
Kerinduanku, doa untuk mu
Dengar pesanku….
Kehidupanmu, adalah aku ada”

Raihlah….
Raihlah mimpimu, anakku
Ucapnya pada batu yang basah

Suatu keping lain
Sejiwa mereka, tapi lainan
Belum tampak. Sudah tampak
Saatnya kelak

Mereka ayam untuk mereka
Tiga manusia berkepala Satu
Bangunkan mereka, atau pembunuh tidur
Yang pasti, pasti karena sunyi sepi
Ada jiwa yang membutuhkan
Ada teduh saat melihat yang basah
Apakah mereka saling mencinta?
Siapa yang saling mencinta?

Tangis teman, kawan, sahabat, saudara
Keluarga mereka
Tontonkan tontonan kesangsian

Selama ini aku bermimpi….
Selanjutnya mimpi esok hari..



JAKARTA, 2008

kosan ku

Menggaung
Keras
Dari balik kotak kecil

Lumpuh, membisu dengan luka terlalu lama
Berkandang kepada hati
Saat berdiri
Terjatuh kembali

Teman berdendang dengan syair bisu
Hanya diam, melamun saja
Kesendirian untuk menyelamatkan diri
Upaya tak tenggelam terlalu dalam
Padahal setinggi bintang
Walau seumpa angan mimpi nan percuma
Dan sia-sia, selalu sia-sia selalu

Panggilannya seperti sirine emergensi mobil ambulance
Menemani mayat tanpa makna
Kepada keluarga yang juga seperti hantu
Tiba, pergi
Lalu tiba untuk pergi lagi

Seperti buta kata,
Juga gagu untuk mengungkapkan sore di kotak kecil ini
Karena luka nan lama terundang kembali
Oleh kenyataan kepedihan
Ah, biar terkubur oleh Cahaya
Dan aku bersama kepasrahan
Karena Dia yang ku cintai
Atas dari atas segalanya

Jakarta, 4 Agustus 2009

malingping


Ke mana aku sendiri
Berdiri dalam tidur
Sedang mata melayang mengawang

Langkahku terawasi satu takut
Padahal jiwa berseru
Hadapi itu
Jangan perih
Lalu cinta berlalu

Awal ini adalah jiwa ditawan
Logam bayang mu
Membintang dalam kelamku
Hanyut dalam arus baumu

Aku sendiri
Ada entah di mana
Hanya berisikan semangat tentangmu

Satu titik terang
Terpantul dari hati
Kabulkan aku semangatku
Tumbuh dengan kuntumnya

Jakarta, 2008

bantimurung

Hitam dekat matamu
Seteduh Bantimurung
Sejukkan jiwa
Pasrah seperti mencari sesuatu
Atau bergelombang saat
Belajar tebak
Lalu dua itu, bulat sama
Sebagai ombak
Indah memanggil ia
Liar menerkam
Setelahnya,
Timbul, atau bersamanya?

230408

pengharapan

Setelah nama Tuhan juga kekasihNya,
Ada bapak,
dan mama sebagai istrinya
Juga nama Fitria menyertai sesudahnya

Dalam langkah hatiku

Tiada hari indahku
Tanpa kamu disisi ini

Mencintai aku padamu dengan suci
Walauku tanpa mu nanti

Yang ada hanya biang niat
Lahirkan hariku tiada penat
Yang lalu dulu

Yang aku sadar akalku
Juga tiada sadarnya
Harapku selalu kamu
Bahagiakan aku lama, selamanya

Tak ada ingin tangisku
Saat hati dicacati
Tingkah polah mu
Yang itu dulu

merah, kuning, ijo

Sekumpul bintang
Merasi dalam khayalku
Bayang selalu
Kamu
Cuma aku yang sayang

Dengan taburan bunga
Yang disirami senyum juga sikap
Kamu

Kamu menawan
Aku
Aku tertawan
Kamu

Dengan wejangan cinta
Dari dasar akal
Ajari aku
Untukkan
Berani lalu sanggup
Untuk menyatakan
Tiada lain
Kamu ratu dari benih
Cintaku

lilis hafidoh

Diantara yang tersenyum terlantun nadaku..

Kuraih tanda Tanya…….
Saat terburu-buru memburu kelip matamu
Dalam benak kusimpan rembulan
Ungkapku tolong persilahkan
Sentuhan hangat dua jemari
Dengan sentuhan penari bali
Dari putih leher yang diperlihatkan

Aku rangkum sepintas kesahajaan
Aku rekam tuk ku poles nanti diruangan kosong

Merah bibir kuakui aku nafsu
Relakan aku menjamah dalam gelapku
Atau dipersembahkan kala nanti
Tenang ku coba sepi
Disetiap jerit lingkaran yang telah basi

Aku harap mampu selalu sayangimu
Aku cemas kau tak lagi akan sayangiku

141107, djakarta
-R. Ipink. N-

bersetubuh

Kata terkumpul
Dalam kesatuan
Diam jinak dia di depan
Terhening simpul
Memaki aku dengan ketakutan
Sejenak hanya ketenangan
Bayang mu aku disapa
Mengasap haluan hatiku

Langkah kita ada
Di atas ambang samudera
Selaut cinta
Menggenang hanya embun
Terapung di muka senyumnya
Diri disadarkan peluk-hangatnya
Cinta dan cinta malam ini
Terdampar pada aroma
Bertahta putih
Sesutra dalam intiku
Untuk dan untukmu
Melaut untuk dan untukmu
Menghijau mekar kembar
Bersama isiku

Ada idea Plato ada

2008

antar Jakarta-Cihara

Bahasa yang tak akan dilupa
Jahannam tertinggal di kepulauan nan jauh
Kau tercipta dengan bayang
Dari jemari mimpi-mimpiku
Keterpuasan aku menahan jiwa yang mereguk
Suatu keabadiaan bernama kesetiaan
Bahagia mengangin kearah lintasan pelangi
Disaksikan darinya aneka peluh, resah, juga terang
Terlintas batu wajahmu
Dari gitar yang tertunduk pojok kamar
Membisu tapi berbicara
Merayu dengan suara hati
Terdengar dari pantulan batin
Membawa aku yang terbang
Dari kebimbangan, ada sekarang dalam keindahan
Fitria kelara!!!!
Siapa di antara kita sanggup melupa
Kelikuan cerita kita?
Jangan ada….
Karena tak akan pernah ada…
Ha..ha…
Gila, 070808

kebangkitan

Menekanku untuk lestarikan rasa
Bersama rintik
Gemerincik
Hasrat ditimbulkannya

Tengah menyelinap
Menembus pengap
Telah tertunda lapar
Telah lama memar

Kejauhan mendekap dia
Dekat selalu ada
Kadang bangkit jiwa
Mungkin tergeletak saja

Biarkan saja cerita ini selalu berlanjut
Bukan dengan tulisan berkalut
tanpa ada maksud apa-apa..
aku hanya seupama belalang-belalang liar..
seperti mereka:
Chairil Anwar,atau Surtadzi Calzoum Bachri,juga sliar WS Rendra..
yang kan menitip kata,
"aku bermaksud mengenalmu untuk aku kau kenal..sungguh

tangan langit malingping, Pas-Put

Sudah dijinakkan secumbu jari
Dicemburukan dalam sepi
Berlari dikebiri diri
Serasa diajak mati

Kau tahu jiwaku bangkit
Setiap saat berasa sakit
Hati ngiang menjerit
Dengan yakin masih saja sedikit

Pikir bermesraan hati
Menjajah kalut terawang mencari
Bisu dalam sepi
Sepi yang kian sepi
Sederhanamu telah menewaskanku dalam pelukmu
Aku dan kau bersandar di muka seprai putih
Keringat seperti tumpahan cinta
Memacu keindahan di siang bolong

Kehangatan telah menyegarkan
Luka telah lama disimpan
Kehausan sekian tahun
Kau siram dengan sejuta harapan

Lantas aku tidak sendiri
Kasihmu tulus untukku
Dituangkan dalam gerak mata
Yang sesekali aku sangat suka

Ceritamu menawanku kedalam sebuah rasa
Iba entah bagaimana
Jelasnya aku terpukul
Dan terpojok kau genggam aku


02102008, rumah evi
Setelah lebaran

fitria celara.. oh...

















Kamu?
sosok malaikat hidup
Aku…
Aku?
hanya sepatah tangkai
Ragu hiasi langkah
Kamu….

Benarkah?
kataku
Kamu diam
Dan diam
Lalu?
Juga dengan
Diam

Sesampai akulah
Hanya dengan sebungkus aneh

Padahal ada cahaya
sehingga mulai terang
Seiring namamu dalam alam
Aku…

Kamu?
Begitupun
Aku…
Tertata di atas catatan-Nya


Jakarta, 2008

Malingping...Mari bersatu!!!!

asli, , ,hanya seperti benang dalam gulungan...
ya tentu benang gesetan,
yakinku kau masih pulih mengingatnya sewaktu kau mainkan
di tempo kecilmu. . .
bersama layang-layang kebanggaan,
seumpama keperkasaan terbang eloknya. . .
lihai memiring kanan dan kiri,
nyaris hanya ketiadaan bilamana tanpa kekuatan,
ya karena benang gesetan
sebagai perisai dari layang-layang mu...
meski ketakutan kan
tiba begitu saja bersama serangan
pasukan tetanggamu...
bila benang gesetan
telah lah kau andalkan,
tak harus lah ada lagi kepengecutan....
sejauh manakah kini layang-layang mu terbang?

indahnya Pantai-Selatan, Malingping

Aku tahu merpati cantik
Saat surya memuncak di bentang cakrawala
Ada di samping aku terpanah
Kerlip matanya membunuh segala
Dan darinya teraih perisai
Untuk menampik cacat laten kebusukanku

Dua perahu nan berkejar
Di singgasana pantai selatan
Sedang aku terduduk
Memeluk si bermata tajam

Tertuang lamunan panjang
Saat hangat sambil bersaksi

Ada kita bermukim pada hari-hari
Berlantai hijau ilalang
Sedang kita sadar ada ulat hendak mengembang

Aku hanya ombak
Membasuh merpati
Untuk tak kembali lagi
Karena hidup mencatatkan
Aku hanya untuk menyapu
Bukan memangku
Untuk dibawa pada lalu-lalang hari-hari bengisku

Saatnya kau terbang
Sang merpati bermata tajam juga tuna
Habitat suaka mu segera menjamu dengan sedanau nanah

Ini tidak hanya sekejap puja harapku

ada dia

Ada dia
Pada jejak
Yang sesak

Ada muak
akan siang
tak telanjang

terbawa dengan angin
hembuskan pada ruang
ramai kata disana
padanya aku mengerti
sesampai lalu melintas
sekotak petak
tempat
kebersamaan berteduh
dengan langit saling-salingan
merangkak di atas rumput pepakuan
sebelum, padanya
ragu, pilu
juga ada jenaka
entah dimana nanti
bagaimana
saat ini hanya bermimpi
belum kunjung terlaksanai

2008, 04, 23

Jumat, 03 April 2009


Diatas tapal dengan guruh sarat semangat
Dihadiahi rasa timbul lalu rasa
Tidak hanya menjerat

Aku kabut kau tiupkan

Terbang aku
Lalu berpindah
Satu pijakan arah

Tidak lagi dengan layu

Tersimpan sebuah nama
Dengan arti suci
Dalam gelas jernih

Aroma cinta, kini sampai muncrat

Di balik tembok aku tumbuh
Bangkit, sekelilingnya lumpuh
Berteman sekantong rapuh
Tetap, berjuang sungguh

Di depanku tikus gendut
Sampai habiskan sampah
Bau dia kentut
Setelah manis serapah

Berdiri aku terduduk lagi
Siapa aku? Aku sadari
Ku raih kaki kembali
Sedang kepala berat terangkati

Aku diam dengan dudukku
Dengan pikir lari-lari
Sembari semangati jari
Untuk berteriak inilah aku

Lihat apa kau?
Aku?
Dalam bahasaku?
Ku yakin tak ada maksudku
Kau diam tiada sesuatu
Karena ini nyeri adanya

Aku terlesu saat
Langkah kan tinggalkan mu
Sebaris air mata berdampingan
Semangat mengkelakar kian dan semakin
Hidup

Caramu mencintaiku
Mengharap aku cintai kamu
Sepenuh tulus

Ini nyanyian lantunan hati
Bergema saat keringat itu
Juga mata beratku
Temaniku dengan kerinduan
Hasrat raga
Hadir kamu
Dalam keheningan cinta

Cinta?
Seperti bidadari dari
Kahyangan; harap dari manusia
Berwarna-warni
Buah cahaya dari panganmu
Semerah darah; air mata terakhir
Sekuning pengecut dikalah Cleopatra
Katanya, juga
Sehijau daun sipembawa tawa
Dan sebiru langit peneduh kita
Padahal karena aneka warnanya
Tidak ada paham kita
Untuknya


Lalu, dengan lantunan hati ini
Aku gegaskan jiwaku
Dan ragakpun
Ke satu titik cahaya
Pastikan pijari masaku
Masa sepanjang umur
Ada, juga tiadamu
Allah merestuimu penyelamat
untukku

Pada Istirahatnya, Kita Pasti Merdeka

MENDENGAR, UNTUK MEMASTIKAN LANGKAH
JIKA KITA SADAR DARI SATU TITIK
JANGAN PERNAH BERGESER
SEBELUM SEMUANYA TERMAKNAI